Fiksi Mini

PENGECUT: “TANGANKU HANYA SINGGAH”

Visual karya PENGECUT: “TANGANKU HANYA SINGGAH”

PENGECUT: “TANGANKU HANYA SINGGAH”
Fatma Yuny Isnaeny
Langit kota selalu sibuk. Seperti tanganku yang dulu, berlari dari satu ruang operasi ke ruang operasi lainnya, memegang jantung manusia seperti menggenggam rahasia Tuhan.
Namaku Dasha. Usia 33 tahun. Dulu aku dikenal sebagai “tangan malaikat” di rumah sakit jantung paling megah di pusat kota.
Hingga hari itu…..
Seorang mahasiswa koas, usia dua puluh empat, pasien darurat dengan kasus jantung koroner akut. Operasi dijadwalkan sore itu di ruang operasi 3. Namaku tercetak di lembar tindakan. Tapi 5 menit sebelum prosedur dimulai, saat itu aku dipanggil untuk ke UGD kafrena keadaan darurat, ada pasien gagal jantung yang mengalami henti jantung. Aku harus bertindak cepat dan aku pergi janya sebentar.
Namun ketika kembali di ruang operasi 3, ternyata operasi telah dilakukan dan aku mendapati pasienku yang harusnya aku yang memimpin operasi itu, sudah dinyatakan meninggal di meja operasi pukul 15.44. Yang mengoperasi? dokter lain. Tapi tak ada yang mencatat peralihan itu. Di dokumen, hanya namaku yang tertulis. Maka, hanya aku yang disalahkan.
Tak ada pembelaan. Tak ada kejujuran dari mereka yang tahu.
Aku dipecat, diadili dan dijatuhkan. Dari tangan malaikat, aku jadi pembawa maut. Mungkin aku memang salah. Tanganku ada di ruangan itu untuk mempersiapkan semuanya tapi aku tak benar-benar disana. Aku tak berani melawan. Tak sanggup membela diri. Aku menghilang. Menyingkir.
Seperti... pengecut.
Lima bulan berlalu. Aku pindah ke rumah sakit cabang di pedalaman. Sebuah bangunan tua, nyaris dilupakan. Tak ada alat canggih, tak ada gaji layak. Tapi... ada pasien-pasien yang benar-benar butuh tangan, bukan nama besar.
Suatu malam, ambulans tua berhenti di halaman. Seorang pria paruh baya dibopong masuk. Riwayat medisnya rumit, jantung buatan dengan baterai internal yang nyaris habis. Bila tak segera diganti, ia akan mati. Keluarga pasien saat itu, langsung meneriaki namaku, tanpa pikir panjang, aku bersiap mengoperasinya.
Operasi berhasil. Tapi aku tak tahu, siapa sebenarnya pria itu, kenapa keluarganya hanya meneriaki namaku, sedangkan aku baru pindah ke rs ini.
Tiga hari kemudian, aku dipanggil ke ruang rawat. Pria itu duduk bersandar, mengenakan jaket tipis. Di sampingnya, seorang pria muda, orang yang aku anggap keluarganya, berdiri membawa laptop.
“Saya belum sempat memperkenalkan diri,” katanya pelan. “Nama saya Aruna Pratama. Ketua Yayasan RS pusat, termasuk rumah sakit tempat kamu dulu dipecat.”
Darahku berhenti mengalir.
Ia memberi isyarat pada asistennya yang kemudian memasukkan flashdisk ke laptop.
Sebuah video terbuka, rekaman kamera operasi hari itu. Terlihat aku keluar ruangan karena dipanggil darurat. Beberapa menit kemudian, seorang dokter lain masuk dan mengambil alih—tanpa otorisasi.
Mataku membelalak. “Tunggu... ini bukti kalau aku...”
“Tidak bersalah,” potongnya lembut. “Aku sudah tahu sejak awal.”
“Lalu... kenapa...?”
Dia menunduk. “Karena yang kau operasi saat itu... adalah cucuku. Tak ada yang tahu. Dia tak ingin dilihat sebagai anak orang penting.”
Air mataku turun tanpa izin.
“Dia percaya padamu. Bahkan saat semua orang memujamu, dia bilang, ‘dr Dasha satu-satunya dokter yang aku percaya.’
Aku terdiam. Ia menatapku dalam.
“Saat dia meninggal, dan semua menudingmu, aku marah. Tapi aku menunggu.
Aku ingin tahu... apakah kau tetap menyembuhkan, meski tak lagi dipuja.”
Tanganku gemetar.
“Kau lulus ujian itu, Dasha. Bukan sebagai dokter, tapi sebagai manusia.”
Aku keluar dari ruang rawat itu dengan langkah lambat.
Tanganku menatap langit, terasa hangat oleh cahaya pagi yang menembus jendela.
Untuk pertama kalinya, aku berani bicara pada diri sendiri:
"Aku bukan pengecut."
Aku hanya manusia yang pernah hancur, dan kini belajar berdiri, tanpa harus membuktikan apa-apa, selain tetap menyembuhkan… bahkan ketika tak ada yang menyaksikan.

Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.