Cerpen

SATU TUBUH, DUA BERLABUH

SATU TUBUH, DUA BERLABUH
Fatma Yuny Isnaeny

Juna hanyalah remaja biasa di mata orang, tapi di balik seragam SMP-nya yang selalu rapi, tersimpan tekad baja. Ayahnya seorang tukang becak, ibunya buruh cuci piring dan baju tetangga. Penghasilan mereka tak pernah cukup, tapi senyum keduanya tak pernah pudar. Sejak kecil, Juna tahu ia tak punya kemewahan, tak ada waktu untuk malas. Pagi belajar, sore membantu ibunya mengantar cucian, malam duduk di bawah lampu seadanya menekuni buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Saat lulus SMP, sebuah kabar baik dating, ia mendapat beasiswa penuh di SMA swasta di desanya. Tapi Juna menolak.

“Kenapa, Jun? Gratis, lho…” tanya ibunya.
“Aku mau sekolah di SMA terbaik di kota. Aku mau buktiin bu… anak tukang becak juga bisa ada di sana.”

Keputusan itu membuatnya harus mencari cara menutup biaya hidup di kota. Siang hari ia belajar di sekolah, sore hingga malam ia menggantikan ayahnya menarik becak. Kadang, selepas itu, ia masih menyempatkan diri menjadi guru privat untuk anak-anak SD dan SMP. Tiga tahun berjalan. Hasilnya luar biasa, nilai akademiknya nyaris sempurna.
Hari yang dinanti tiba. Juna mendaftar ke sekolah militer, impiannya sejak dulu. Semua tes akademik ia lewati dengan mudah. Tinggal satu langkah terakhir yaitu tes kesehatan.

Beberapa jam Juna duduk di ruang tunggu, menatap para peserta lain yang keluar dengan senyum lega. Namanya dipanggil. Ia masuk ke ruangan pemeriksaan, di mana seorang dokter berpakaian dinas membuka berkasnya sambil menghela napas panjang.

“Juna, hasilmu bagus. Sangat bagus,” suara dokter itu pelan, tapi ada nada berat yang mengganjal.
“Kalau bagus… berarti saya lulus, Pak?” Juna menatap penuh harap.
Dokter menutup map itu, lalu menatap Juna dengan tatapan iba.

“Maaf, Nak… kamu tidak lolos.”


Hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

“…Kenapa?” suaranya pecah, nyaris berbisik.
“Kondisi gizimu di bawah standar. Berat badanmu kurang. Tubuhmu… tidak akan kuat menghadapi pelatihan.”

Kalimat terakhir itu memecahkan bendungan di dadanya. Malam menarik becak, pagi belajar dengan mata setengah terpejam, sore mengajar les demi uang sekolah, seakan runtuh jadi debu.
Di luar, ia berjalan dengan langkah gontai. Dunia terasa kabur. Sesampainya di rumah, ayah dan ibunya sudah menunggu di teras.

“Gimana, Nak?” tanya ayahnya, senyum tipis mencoba menghapus ketegangan.

Juna menatap mereka beberapa detik, lalu memaksa senyum… yang segera runtuh.

“Gagal, Yah… Bu…” suaranya pecah, matanya merah.
Ibunya langsung memeluknya. “Kamu sudah berjuang, Nak. Udah cukup. Ibu bangga.”
“Tapi aku nggak mau cuma bangga, Bu… aku mau berhasil… Aku udah kasih semua yang aku punya… tapi masih kurang…”

Ia menangis di pelukan ibunya, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun. Malam itu, ayahnya duduk di sampingnya, menepuk bahunya pelan.

“Kamu jatuh bukan berarti kalah, Jun. Kadang Tuhan cuma mau kamu belok sedikit… ke jalan yang lebih tepat.”

Dua minggu berlalu. Juna masih menarik becak, masih mengajar les, tapi semangatnya seperti redup. Sampai suatu sore, seorang tukang pos datang membawa amplop berstempel resmi. ‘Kepada Juna Arifin’, terbaca oleh Juna samar, tapi yakin itu untuknya. Dengan tangan bergetar, Juna membukanya. Isinya membuat matanya membulat, ia diundang ke markas militer, bukan sebagai taruna, tapi sebagai pelatih statistik militer untuk para calon prajurit. Ternyata, salah satu penguji melihat nilai matematikanya yang nyaris sempurna, dan merekomendasikan namanya untuk program khusus. Di sana, Juna mengajar dengan penuh dedikasi, menyusun strategi hitung cepat dan logistik. Prestasinya membuat para petinggi terpukau, hingga ia diberi penghargaan yang tak disangka. Pendidikan Gratis di sekolah militer yang ia idamkan, sekaligus jabatan sebagai pengajar tamu di sekolah militer tersebut. Sejak itu, Juna menjalani dua peran sekaligus, menjadi taruna dan guru. Juna si satu tubuh, dua berlabuh.

Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.